Menyongsong Diberlakukannya Kurikulum Berbasis Kompetensi :
PEMBELAJARAN PENDIDIKAN IPS DI TINGKAT SEKOLAH DASAR
Oleh :
Drs. ARIEF ACHMAD MSP., M.Pd.
Pendahuluan
Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) secara nasional akan
diimplementasikan pada tahun pembelajaran 2004-2005, meskipun semenjak
digulirkan (2001) sudah ada beberapa sekolah yang memberlakukannya,
dalam bentuk uji coba atau menjadi pilot project dari Depdiknas. Gaung
KBK kiranya sudah menggema ke seluruh pelosok persada tanah air
tercinta, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), khususnya di
kalangan pendidikan. Demikian halnya harapan yang sama ditujukan bagi
KBK pendidikan IPS di tingkat SD.
Tulisan ini mencoba memberikan deskripsi tentang hal-hal apa saja yang
perlu diketahui, dipahami, dan diimplementasikan dari KBK IPS di tingkat
SD itu.
Pendidikan IPS untuk Sekolah Dasar
Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di SD harus memperhatikan
kebutuhan anak yang berusia antara 6-12 tahun. Anak dalam kelompok usia
7-11 tahun menurut Piaget (1963) berada dalam perkembangan kemampuan
intelektual/kognitifnya pada tingkatan kongkrit operasional. Mereka
memandang dunia dalam keseluruhan yang utuh, dan menganggap tahun yang
akan datang sebagai waktu yang masih jauh. Yang mereka pedulikan adalah
sekarang (=kongkrit), dan bukan masa depan yang belum bisa mereka pahami
(=abstrak). Padahal bahan materi IPS penuh dengan pesan-pesan yang
bersifat abstrak. Konsep-konsep seperti waktu, perubahan, kesinambungan
(continuity), arah mata angin, lingkungan, ritual, akulturasi,
kekuasaan, demokrasi, nilai, peranan, permintaan, atau kelangkaan adalah
konsep-konsep abstrak yang dalam program studi IPS harus dibelajarkan
kepada siswa SD.
Berbagai cara dan teknik pembelajaran dikaji untuk memungkinkan
konsep-konsep abstrak itu dipahami anak. Bruner (1978) memberikan
pemecahan berbentuk jembatan bailey untuk mengkongkritkan yang abstrak
itu dengan enactive, iconic, dan symbolic melalui percontohan dengan
gerak tubuh, gambar, bagan, peta, grafik, lambang, keterangan lanjut,
atau elaborasi dalam kata-kata yang dapat dipahami siswa. Itulah
sebabnya IPS SD bergerak dari yang kongkrit ke yang abstrak dengan
mengikuti pola pendekatan lingkungan yang semakin meluas (expanding
environment approach) dan pendekatan spiral dengan memulai dari yang
mudah kepada yang sukar, dari yang sempit menjadi lebih luas, dari yang
dekat ke yang jauh, dan seterusnya : dunia-negara
tetangga-negara-propinsi-kota/kabupaten-kecamatan-kelurahan/desa-RT/RW-tetangga-keluarga-Aku.
Pola Pendekatan Lingkungan yang Semakin Meluas
Pembelajaran IPS SD akan dimulai dengan pengenalan diri (self), kemudian
keluarga, tetangga, lingkungan RT, RW, kelurahan/desa, kecamatan,
kota/kabupaten, propinsi, negara, negara tetangga, kemudian dunia. Anak
bukanlah sehelai kertas putih yang menunggu untuk ditulisi, atau replika
orang dewasa dalam format kecil yang dapat dimanipulasi sebagai tenaga
buruh yang murah, melainkan, anak adalah entitas yang unik, yang
memiliki berbagai potensi yang masih latent dan memerlukan proses serta
sentuhan-sentuhan tertentu dalam perkembangannya. Mereka yang memulai
dari egosentrisme dirinya kemudian belajar, akan menjadi berkembang
dengan kesadaran akan ruang dan waktu yang semakin meluas, dan mencoba
serta berusaha melakukan aktivitas yang berbentuk intervensi dalam
dunianya. Maka dari itu, pendidikan IPS adalah salah satu upaya yang
akan membawa kesadaran terhadap ruang, waktu, dan lingkungan sekitar
bagi anak (Farris and Cooper, 1994 : 46).
Pendidikan IPS dalam Struktur Program Kurikulum (KBK) SD
Pendidikan IPS SD disajikan dalam bentuk synthetic science, karena basis
dari disiplin ini terletak pada fenomena yang telah diobservasi di
dunia nyata. Konsep, generalisasi, dan temuan-temuan penelitian dari
synthetic science ditentukan setelah fakta terjadi atau diobservasi, dan
tidak sebelumnya, walaupun diungkapkan secara filosofis. Para peneliti
menggunakan logika, analisis, dan keterampilan (skills) lainnya untuk
melakukan inkuiri terhadap fenomena secara sistematik. Agar diterima,
hasil temuan dan prosedur inkuiri harus diakui secara publik (Welton and
Mallan, 1988 : 66-67).
IPS SD diprogramkan dalam bentuk pelajaran Sejarah bersama-sama
Kewargaanegara (Citizenship) dengan alokasi waktu 3 jam pelajaran setiap
minggu, dan Ilmu Sosial (Social Sciences) sebanyak 3 jam pelajaram
setiap minggu sejak kelas III, IV, V, dan VI. Kemungkinan besar alasan
pembagian seperti ini dilandasi oleh pertimbangan, bahwa tiga tradisi
besar IPS (Social Studies) adalah good citizenship, social sciences, dan
reflective inquiry.
Tema-tema IPS SD yang Perlu Mendapat Perhatian
Secara gradual, di bawah ini akan diungkapkan beberapa tema IPS SD yang perlu mendapat perhatian kita bersama, antara lain :
(1) IPS SD sebagai Pendidikan Nilai (value education), yakni :
· Mendidikkan nilai-nilai yang baik yang merupakan norma-norma keluarga dan masyarakat;
· Memberikan klarifikasi nilai-nilai yang sudah dimiliki siswa;
· Nilai-nilai inti/utama (core values) seperti menghormati hak-hak
perorangan, kesetaraan, etos kerja, dan martabat manusia (the dignity of
man and work) sebagai upaya membangun kelas yang demokratis.
(2) IPS SD sebagai Pendidikan Multikultural (multicultural eduacation), yakni
· Mendidik siswa bahwa perbedaan itu wajar;
· Menghormati perbedaan etnik, budaya, agama, yang menjadikan kekayaan budaya bangsa;
· Persamaan dan keadilan dalam perlakuan terhadap kelompok etnik atau minoritas.
(3) IPS SD sebagai Pendidikan Global (global education), yakni :
· Mendidik siswa akan kebhinekaan bangsa, budaya, dan peradaban di dunia;
· Menanamkan kesadaran ketergantungan antar bangsa;
· Menanamkan kesadaran semakin terbukanya komunikasi dan transportasi antar bangsa di dunia;
· Mengurangi kemiskinan, kebodohan dan perusakan lingkungan.
Metode Pembelajaran IPS SD
Sesuai dengan karakteristik anak dan IPS SD, maka metode ekspositori
akan menyebabkan siswa bersikap pasif, dan menurunkan derajat IPS
menjadi pelajaran hafalan yang membosankan. Guru yang bersikap
memonopoli peran sebagai sumber informasi, selayaknya meningkatkan
kinerjanya dengan metode pembelajaran yang bervariasi, seperti
menyajikan cooperative learning model, role playing, membaca sajak, buku
(novel), atau surat kabar/majalah/jurnal agar siswa diikutsertakan
dalam aktivitas akademik. Tentu saja guru harus menimba ilmunya dan
melatih keterampilannya, agar ia mampu menyajikan pembelajaran IPS SD
dengan menarik.
Penutup
Perubahan-perubahan yang terjadi dalam struktur program kurikulum KBK,
yang menyangkut pembelajaran IPS berikut pembagiannya menjadi
Kewarganegaraan (Citizenship) dan Sejarah serta Ilmu Sosial, masih belum
jelas kerangka berfikir berikut landasannya. Landasan permasalahan yang
menyangkut kondisi kemasyarakatan membebani IPS SD dengan
tekanan-tekanan dalam bentuk tuntutan keinginan dan harapan yang tidak
sesuai dengan tingkat kematangan fisik, mental, dan intelektual siswa
SD, dan berada di luar jangkauan peraihannya.
Bagi guru, tekanan dan tuntutan melaksanakan program baru ini juga tidak
kecil. Mereka harus dipersiapkan agar mampu menyajikan ilmu sosial
untuk jenjang Sekolah Dasar dengan metode-metode pembelajaran yang
beragam.
Home
pendidikan
Artikel: PEMBELAJARAN PENDIDIKAN IPS DI TINGKAT SEKOLAH DASAR
Artikel: PEMBELAJARAN PENDIDIKAN IPS DI TINGKAT SEKOLAH DASAR
Rabu, 29 Mei 2013
Label:
pendidikan

0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !