BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Makalah
“Etnisitas dalam Pengembangan atau Pembangunan Nation and Character Building
Indonesia” merupakan makalah yang kami ajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah
IPS SD 1.
Pembangunan
nasional merupakan usaha peningkatan kualitas manusia dan masyarakat Indonesia
yang dilakukan secara berkelanjutan, berdasarkan kemampuan nasional, dengan
memanfaatkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta memperhatikan
tantangan perkembangan global. Dalam pelaksanaanya selalu mengacu pada
kepribadian bangsa dan nilai luhur yang universal untuk mewujudkan kehidupan bangsa yang
berdaulat, mandiri, berkeadilan, sejahtera, maju dan kukuh kekuatan moral dan
etiknya, sedangkan Character Building
sendiri adalah modal dasar untuk membangun bangsa. Tanpa sumber daya manusia
yang memiliki karakter yang kuat dan berkualitas, bangsa ini akan tetap hancur
dan bobrok. Tak mungkin kita menyerahkan kepemimpinan negeri ini kepada yang
memiliki karakter bejat dan tak bermoral. Dalam konteks yang luas, masalah character
building masih merupakan suatu isu besar, bahkan amat besar. Semua masalah
di negeri ini : korupsi, lemahnya penegakan hukum dan HAM, konflik agama dan
suku, disintegrasi bangsa, kekerasan dan terorisme, kemiskinan dan
pengangguran, kasus kejahatan dan masih banyak lagi adalah lahir dari tidak
adanya watak yang jelas dan kokoh dalam diri kita.
Ancaman
konflik suku harus dapat serius kita waspadai. Konflik berkepanjangan
antar-suku dapat merusak sendi-sendi kehidupan kita bermasyarakat, berbangsa
dan bernegara. Ancaman konflik kini sedang menerpa kehidupan kita dan bila kita
lengah, peristiwa kelam masa lalu dapat terulang dan bukan tidak mungkin dapat
lebih besar dan lebih luas di seantero negeri ini.
B. Rumusan
Masalah
Masalah
etisitas khususnya konflik antar suku merupakan salah satu penyebab kelemahan
character building atau pembangunan karakter di Indonesia. Jika hal ini dibiarkan berlarut-larut maka
pembangunan karakter bangsa tidak akan berhasil.
Berdasarkan
uraian di atas, permasalahan yang di ambil dalam makalah ini adalah :
1. Bagaimana peran
character building terhadap pembangunan nasional di Indonesia?
2. Seperti apakah keberadaan suku-suku
di Indonesia?
3. Bagaimana masalah dan cara
menyelesaikan perpecahan antar suku di Indonesia?
Ketiga permasalahan tersebut akan dibahas pada bab II dan
dari pembahasan tersebut disimpulkan pada bab III.
C. Tujuan dan
Manfaat
1. Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah :
1). Memahami peran character building terhadap
pembangunan nasional di Indonesia.
2). Mengetahui keanekaragaman suku di
Indonesia di Indonesia .
3).Mengetahui masalah serta solusi untuk
menyelesaikan perpecahan antar suku di
Indonesia
2. Manfaat
Makalah ini
akan sangat bermanfaat bagi pemerhati perkembangan karakter bangsa Indonesia
sehingga dapat mengupayakan pembangunan karakter yang sesuai dengan tujuan
utama, yaitu bukan hanya pembangunan fisik tapi juga mental serta rohani agar
tidak ada permusuhan diantara anggota masyarakat, baik karena perbedaan maupun
perselisihan.
D. Prosedur Pemecahan Masalah
Masalah yang telah dikemukakan di atas akan diselesaikan
dengan menggunakan dua pendekatan yaitu pendekatan teori dan praktis, secara
teori akan menggunakan kajian-kajian pustaka yang relevan, hasil-hasil
penelitian, dan makalah, sedangkan secara praktis dengan menggunakan data-data
yang tersedia di lapangan.
E.
Sistematika
Penulisan
Berangkat dari
permasalahan yang ada maka sistematika penulisan dalam makalah ini adalah:
A.
Kaitan Character Building dengan nation building
1.
Personal Character Building
2.
Community Character Building
3.
Nation Character Building
B.
Keanekaragaman Suku di Indonesia
C.
Perpecahan Suku di Indonesia dan Cara
Menangani Konflik Suku di Indonesia
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Ø Etnisitas adalah pembagian
kelompok berdasar ciri-ciri yang sama dalam hal budaya
dan genetis serta bertindak berdasarkan pattern yang
sama.
Pada dasarnya suatu
kelompok etnis mempunyais sedikitnya
enam sifat sbb.:
1. Mempunyai nama yang unik
yang merujuk pada kelompok masyarakat tertentu. Misalnya
Nasution, Saragih, Sitorus (Batak). Atau Pardi, Paimo, Parjo (Jawa).
2. Mempunyai keyakinan akan
asal-asul nenek moyang, meski hal itu bisa jadi mitos. Misal orang Jawa merasa keturunan dari Semar.
3. Sebuah kelompok mempunyai
ingatan historis yang sama.
Misalnya Orang Sunda merasa tidak cocok dengan orang Jawa karena dahulu
Kerajaan Majapahit (jawa) pernah terlibat bentrok dengan kerajaan Padjajaran
(Sunda).
4. Sebuah Kelompok mempunyai
anasir budaya-agama yang sama. Meski
orang Jawa timur dan Jawa tengah berdeda dialek, tapi umumnya mereka islam dan
dulunya menggunakan akasara yang sama (aksara jawa).
5. Sebuah Kelompok mempunyai ikatan pada tanah
leluhur. Meski, mereka
lahir dan besar di tempat lain. Misalnya orang batak yang lahir dan besar di
Jakarta, merasa harus pulang kampung ke Tanah Toba karna merasa itulah tanah
leluluhurnya.
6. Memiliki ikatan solidaritas
yang kuat antar anggota kelompok. Misalnya
orang tukang jamu dari Wonogiri (jawa) biasanya mereka saling membantu meski
pekerjaan mereka sama-sama tukang jamu. Mereka akan saling berbagi dan saling
tolong-menolong sebagai sesama tukang jamu dan sesama warga Wonogiri.
Dalam
beberapa hal, masalah pekerjaan kadangkala juga merujuk pada identitas
etnisitas tertentu. Misalnya, tukang kredit keliling di Jakarta umumnya orang
Garut atau Batak
Ø definisi pembangunan menurut
beberapa ahli :
1. Johan Galtung
Pembangunan merupakan upaya untuk memenuhan kebutuhan dasar
manusia, baik secara individuao maupun kelompok, dengan cara-cara yang tidak
menimbulkan kerusakan, baik terhadap kehidupan sosial maupun lingkungan alam.
2. Mappadjantji amien
Pembangunan adalah proses yang bersifat evolutif, adaptif,
dan partisipatif
3. Jakob Oetama
Pembangunan adalah usaha mewujudkan kesejahteraan
masyarakat. Dalam proses pembangunan terdapat unsur heroisme, unsur konflik,
unsur frustasi, unsur romantik, dan unsur manusiawi yang mendalam.
4. Mohammad Ali
Pembangunan adalah segala upaya yang dilakukan secara
terencana dalam melakukan perubahan dengan tujuan utama memperbaiki dan
meningkatkan taraf hidup masyarakat, meningkatkan kesejahteraan dan
meningkatkan kualitas manusia.
5. Goulet
Pembangunan adalah sebuah skandal, suatu campuran yang
sangat mendua dari baik dan jahat, suatu proses yang benar-benar dialektis.
6. Benny H.Hoed
Pembangunan adalah upaya sistematis melepaskan diri dari
keterbelakangan dan upaya untuk memperbaiki kesejahteraan masyarakat.
7. The quest for political development
Pembangunan ialah suatu lingkaran yang tidak berkeputusan,
tanpa sepadan yang jelas diantara lembaran budaya, sosial, ekonomi, dan politik.
8. A. Sonny keraf
Pembangunan adalah implementasi aspirasi dan kehendak
masyarakat demi kepentingan masyarakat.
Ø Pembangunan
yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia ini menghendaki keselarasan hubungan
antara manusia dan lingkungan alam sekitarnya. Hal ini perlu dillaksanakan
dalam rangka mewujudkan masyarakat yang adil dan makmurt berdasarkan pancasila
untuk mecapai kesejahteraan bagi setiap warga Indonesia.. pembangunaan harus
dilaksanakan oleh pemerintah indonesia pada saat ini meliputi berbagai bidang,
yaitu :bidang politik,ekonomi,sosial budaya,dan pertahanan keamanan.[1]
BAB
III
PEMBAHASAN
A.
Kaitan Character
Building dengan Nation Building
Character
Building merupakan modal dasar nation building. character building
yang dimaksud di sini tidak sekedar seperti apa yang diajarkan di sekolah
maupun kampus saja, tapi meliputi berbagai aspek kehidupan dan berbagai elemen
masyarakat yang ada.
pendidikan character building
dapat dilakukan melalui tiga tahap [2]
yaitu:
1.
Personal Character Building
Pembangunan karakter ini bersifat
individu, yaitu berbagai nilai dan perilaku yang seharusnya dimiliki oleh
setiap orang dan menjadi ciri khas kepribadiannya. Elemen-elemen karakter
individu ini meliputi:
a.
Keimanan/keyakinan
Masyarakat
Indonesia adalah masyarakat yang beragama. Oleh karena itu, setiap warga negara
seharusnya memiliki keimanan yang kuat dan mau menjalankan perintah agamanya
masing-masing secara baik dan konsisten. Orang yang beriman akan selalu takut
kepada Tuhan dan berusaha untuk berbuat baik kepada sesama. Ia tidak akan mau
melakukan perbuatan-perbuatan yang membuat murka Tuhan maupun yang merugikan
orang lain.
Oleh
karena itu, pendidikan agama sangatlah penting. Sekalipun demikian, masih
banyak para orang tua yang menyerahkan pendidikan agama anak-anaknya ke
sekolah, pesantren, masjid atau lembaga pendidikan lainnya. Padahal, penanaman
nilai-nilai keimanan dan pokok-pokok agama harus diterapkan sejak dini di dalam
keluarga. Orang tua memegang peran dan tanggung jawab utama dalam hal ini.
Kita
lihat saja, terutama di sekolah-sekolah umum, persentase pendidikan agama kecil
sekali, bahkan hanya dua jam pelajaran dalam seminggu. Itupun lebih cenderung
bersifat kognitif semata. Selain itu, jika orang tua tidak berhati-hati, tak
jarang anaknya belajar agama secara salah dan masuk dalam perangkap ajaran
sesat.
Peranan
agama dalam pendidikan karakter individu sangatlah besar. Beragama secara baik
akan membuahkan perilaku yang baik pula. Keimanan akan dijadikan dasar dalam
setiap langkah dan perbuatan. Penerapan nilai-nilai agama dalam kehidupan
sehari-hari akan membentuk karakter individu dalam berbagai aspek. Inilah dasar
pokok yang harus dimiliki oleh setiap orang di negeri ini.
Jika
setiap orang telah memiliki iman yang kuat dan pengamalan ajaran agama secara
baik, ia tidak mungkin akan melakukan perbuatan-perbuatan seperti menyakiti
orang lain, menyebar isu, memprovokasi dan memfitnah, ikut ajaran sesat,
korupsi dan mencuri, malas bekerja, tidak toleran, berbuat jahat dan lain sebagainya.
b. Kejujuran
Setelah
keimanan, elemen berikutnya yang tak kalah pentingnya adalah nilai kejujuran,
yang merupakan representasi dari keimanan itu sendiri. Di zaman sekarang ini,
mungkin kejujuran adalah barang langka. Banyak sekali orang yang pintar, tapi
sangat sedikit orang yang jujur. Mudah sekali menemukan orang yang pintar, tapi
sangat sulit menemukan orang yang jujur. Walau pada kenyataannya masih cukup
banyak orang jujur di Indonesia ini, tapi mereka tak berdaya menghadapi
kelompok kecil manusia yang korup dan punya kekuasaan.
Kita
seharusnya malu menjadi bangsa yang suka mengklaim sebagai negara yang
penduduknya agamis, sementara para praktik kehidupan sehari-hari kita tidak
memiliki kejujuran. Di satu sisi kita mengaku beriman, kita melaksanakan
shalat, tapi di sisi lain kita juga melakukan korupsi, menipu, berbohong,
bersumpah palsu, merekayasa dan sejenisnya. Seakan-akan agama hanyalah simbol
semata, seakan-akan shalatnya hanyalah pura-pura belaka.
Orang
rela berkata dan berbuat tidak jujur hanya demi meraih kekuasaan dan kekayaan.
Orang rela berbohong dan bersumpah palsu demi terbebas dari jeratan hukum dan
pengadilan. Orang bersedia merekayasa fakta dan data demi tercapainya
kepentingan pribadi dan golongan.
Di
abad informasi seperti sekarang ini, kejujuran dalam hal berita dan tulisan
juga sangat penting. Masih banyak kita temui informasi yang menyesatkan, berita
yang membingungkan dan tidak jelas, berita yang tidak jujur dan fair. Bahkan,
tak jarang penulis yang berbuat curang dan culas demi sebuah ketenaran, seperti
plagiat, menjiplak, atau mengakui karya orang lain sebagai karyanya sendiri.
Satu-satunya cara untuk menanamkan nilai-nilai
kejujuran pada individu adalah memberikan pemahaman agama yang baik dan benar.
Orang yang takut pada Tuhan, otomatis takut juga untuk berbuat tidak jujur.
Orang yang percaya pada hari akhirat, ia juga percaya bahwa setiap perbuatan –
sekecil apapun – akan mendapatkan balasan setimpal. Orang yang beriman akan
yakin bahwa setiap ketidakjujuran, akibatnya akan kembali pada diri sendiri.
c. Kerja Keras
Setelah
keimanan dan kejujuran, elemen penting dari karakter pribadi yang perlu
dibangun adalah kerja keras. Inilah karakter yang mulai menurun pada bangsa
ini, terlebih yang terjadi pada para pejabat dan pegawai. Sebagian dari mereka
memilih “kerja pintas” untuk meraih kesuksesan dan kekayaan. Inilah yang
membuat mereka melakukan korupsi, penyelengan dan penyimpangan, penyalahgunaan
wewenang, rekayasa dan semacamnya. Mereka lupa bahwa untuk memperoleh sesuatu harus
melalui kerja keras dan perjuangan. Tidak ada yang instan di dunia ini.
Selain
itu, tidak adanya karakter kerja keras juga menimpa rakyat jelata kita. Mereka
tetap dalam kemiskinan, mereka tetap dalam kebodohan, mereka tetap terbelakang,
karena mereka tidak mau berusaha mengubah hidup mereka. Akibatnya, kondisi itu
merangsang mereka untuk berbuat kejahatan, seperti mencuri, merampok, menjarah,
membunuh, menjadi gelandangan, menjadi pengemis, menjadi pekerja seks dan
penyakit sosial lainnya. Bagaimana mungkin mereka akan andil dalam pembangunan
bangsa, sementara memenuhi kebutuhan primer saja mereka belum mampu.
d. Kemandirian
Kemandirian
juga termasuk karakter individu yang penting untuk membangun bangsa. Karakter
ini seharunya dibentuk sejak kecil dan dimulai dari keluarga. Mulai dari
hal-hal sepele, seperti mencuci pakaian sendiri, menyiapkan kebutuhan sekolah
sendiri, hingga perilaku kreatif, seperti kemampuan mencipta atau membuat
barang/produk, berlatih mencari penghasilan sendiri dan sebagainya.
Begitu
pula dengan kondisi lapangan kerja yang sulit seperti sekarang ini, maka
seseorang dituntut untuk bisa mandiri, dalam arti mampu menciptakan lapangan
kerja sendiri. Tidak hanya mengharap pada pemerintah untuk membuka lapangan
kerja atau malah pasrah dengan keadaan.
Sedangkan
secara nasional, kemandirian dapat diartikan kemampuan negara untuk berdiri di
atas kaki sendiri, tidak tergantung pada negara lain. Jika hal ini bisa
dilakukan, tidak akan ada lagi istilah hutang ke IMF, hutang ke Bank Dunia atau
hutang yang diwariskan ke anak-cucu generasi bangsa.
2. Community Character Building
Kita hidup dalam masyarakat
(komunitas) yang heterogen. Berbeda agama, suku bangsa, bahasa, adat-istiadat,
budaya, pendidikan, sejarah dan sebagainya. Agar kehidupan bisa berjalan dengan
baik dan rukun, maka setiap kelompok atau golongan harus memiliki karakter
sebagai berikut:
a. Saling
Menghormati dan Menghargai
Inilah karakter penting yang harus
ditumbuhkembangkan dalam masyarakat yang plural. Timbulnya berbagai konflik dan
gesekan biasanya berakar dari tiadanya sikap saling hormat-menghormati dan
menghargai antarkelompok dan golongan yang ada. Hindari juga sikap fanatisme
golongan, merasa paling baik, merasa lebih tinggi dari yang lain, merasa
mayoritas dan berbagai sikap lainnya yang bisa memicu pertentangan.
b. Sikap
Toleransi
Ini juga termasuk karakter yang
mulai pudar dalam masyarakat kita. Sebagian dari kita tidak menyadari bahwa
kita hidup dalam masyarakat yang majemuk. Masing-masing kelompok dan golongan
tentu memiliki hak dan kewajiban yang sama sebagai warga negara. Kita tidak
boleh memaksakan keinginan dan kehendak kita kepada kelompok lainnya. Wujud
dari sikap toleransi adalah kita memberikan kebebasan kepada orang atau
golongan lain untuk melaksanakan ibadah sesuai dengan keyakinan mereka, serta
memberi ruang kepada etnik lain untuk melakukan ritual budaya dan tradisi
leluhur mereka[3] . Kasus
penutupan atau penyerangan gereja, bentrokan fisik dengan warga Ahmadiyah
adalah contoh tidak adanya sikap toleransi dalam masyarakat kita.
c. Saling
Bekerjasama dan Tolong-Menolong
Untuk mencapai tujuan bersama,
diperlukan kerjasama dan tolong-menolong antarkelompok masyarakat yang ada.
Kita tidak mungkin meraih kesejahteraan dan kemakmuran jika harus berjalan
sendiri-sendiri. Masing-masing kelompok memiliki kelebihan dan kekurangannya.
Untuk itulah, semua potensi yang ada perlu disatu-padukan agar terbentuk
kekuatan baru dalam pembangunan.
Jika ketiga karakter bermasyarakat
di atas bisa terlaksana dengan baik, maka akan terwujud sebuah masyarakat yang
damai, tenang, aman, adil dan rukun.
3. Nation Character Building
Setelah setiap orang memiliki
karakter individu seperti telah diuraikan di atas, demikian halnya setiap
kelompok yang ada dalam masyarakat juga telah menunjukkan karakter
komunitasnya, maka tidaklah sulit untuk mewujudkan pendidikan karakter bangsa (nation
character building). Maka selanjutnya, secara nasional, karakter yang
harus dibangun adalah:
a. Jiwa
Persatuan dan Kesatuan
Indonesia terdiri dari berbagai
agama, suku bangsa, bahasa, adat-istiadat dan budaya. Oleh karena itu,
persatuan dan kesatuan bangsa perlu dijaga dan dilestarikan. Setiap elemen
bangsa perlu menyadari arti pentingnya Bhinneka Tunggal Ika, termasuk
menjalankan isi Sumpah Pemuda dalam kehidupan berbanga dan bernegara. Kita
lebih mengedepankan semangat keindonesiaan daripada semangat kelompok atau
golongan.
Jika kita bersatu, maka kita akan
kuat dan kokoh. Jika kita bersatu, maka berbagai permasalahan bangsa akan
dengan mudah diatasi. Tidak akan ada lagi perpecahan dan permusuhan, tidak ada
lagi separatisme atau yang hendak merdeka dan mendirikan negara sendiri.
Konflik di Maluku dan Papua akhir-akhir ini menunjukkan bahwa jiwa persatuan
dan kesatuan kita belumlah tertanam dengan baik dan menjadi karakter setiap
elemen bangsa.
b. Merasa
Senasib dan Sepenanggungan
Pengalaman dijajah oleh beberapa
bangsa Eropa dan Asia Timur, membuat kita merasa senasib dan sepenanggungan.
Kita adalah bersaudara. Untuk itu, kita perlu bahu-membahu dan berjuang demi
tegaknya negara kesatuan Republik Indonesia dan demi terlaksananya pembangunan
nasional yang berkelanjutan.
B.
Keanekaragaman Suku di Indonesia
Bangsa Indonesia terdiri dari bermacam-macam suku
bangsa. Tentunya banyak sekali perbedaan yang ada. Ada yang berbeda warna
kulit, bentuk fisik, dan budayanya. Perbedaan jangan dipermasalahkan. Justru
dengan adanya perbedaan tersebut, kita jadikan suatu kekayaan sehingga tercipta
suasana yang aman, tenteram, dan harmonis. Sikap menghormati adalah sikap menghargai
dan mengakui keberadaan harkat dan martabat manusia meski berbeda-beda suku
bangsa. “Bhinneka Tunggal Ika” yang terdapat pada pita Burung Garuda Pancasila
lambang Negara Indonesia mengandung arti “Berbeda-beda, tetapi tetap satu jua.”
Ada juga semboyan yang menyatakan “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.”
Makna dari semboyan tersebut adalah supaya kita bersatu padu menghalau semua
ancaman yang dapat memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa kita. Dalam
sejarah, bangsa kita telah berhasil mengusir penjajah dari bumi Nusantara
karena adanya persatuan dan kesatuan para pemuda dari seluruh Nusantara.[4]
Contoh sikap
menghormati, di antaranya tidak merendahkan suku bangsa lain, menghargai suku
bangsa lain, dan mengakui keberadaan suku bangsa lain, serta tidak mengusik
perbedaan antarsuku bangsa. Manfaat sikap menghormati antarsuku bangsa adalah
sebagai berikut. 1. Tercipta kehidupan yang rukun dan damai. 2. Merasa aman
tinggal di negara Indonesia. 3. Rasa persatuan dan kesatuan meningkat. 4. Tidak
mudah terpecah belah oleh pihak lain. Akibat tidak menghormati antarsuku bangsa
adalah sebagai berikut. 1. Tidak ada keamanan dan kedamaian. 2. Timbul
perpecahan dan permusuhan. 3. Tidak ada persatuan dan kesatuan. 4. Mudah
terpecah belah. Dengan kita saling menghormati suku bangsa lain, maka kita
dapat hidup damai, tenteram secara berdampingan tanpa mempersoalkan perbedaan
dari mana kita berasal.
Keanekaragaman suku bangsa tentu juga
menjadikan beranekaragamnya budaya yang ada. Setiap suku bangsa memiliki budaya
yang berbeda satu dengan yang lainnya. Keragaman suku bangsa yang kita miliki
merupakan kekayaan bangsa yang tidak ternilai harganya dan dapat memperkokoh
persatuan bangsa. Hal ini merupakan kekuatan untuk membangun bangsa menjadi
bangsa yang besar. Kita tidak boleh membeda-bedakan suku bangsa yang dapat
mengakibatkan perselisihan dan kekacauan bangsa kita.
Bentuk keragaman
budaya di Indonesia, di antaranya sebagai berikut:
1.
Bahasa Daerah Setiap suku bangsa, memiliki bahasa
sendiri. Contoh: bahasa Jawa, bahasa Madura, bahasa Batak, bahasa Sunda, bahasa
Minangkabau, bahasa Bali, dan bahasa Banjar.
2.
Adat Istiadat
Adat istiadat meliputi tata cara dalam upacara perkawinan, upacara keagamaan,
kematian, kebiasaan, dan pakaian adat.
3.
Kesenian Daerah
Kesenian daerah, meliputi seni tari, rumah adat, lagu daerah, seni musik dan
alat musik daerah, cerita rakyat, serta seni pertunjukan daerah.
4.
Sistem
Kekerabatan Sistem kekerabatan meliputi sebagai berikut:
1)
Sistem keturunan menurut garis ayah (patrilineal), di
antaranya Batak, Bali, dan Papua.
2)
Sistem keturunan
menurut garis ibu (matrilineal), di antaranya suku Minangkabau.
3)
Sistem keturunan
menurut garis ayah dan ibu (bilateral).
C.
Perpecahan
Suku di Indonesia dan Cara Menangani nya
Indonesia
sebagai negara kepulauan yang terdiri dari beribu banyak suku yang setiap waktu
melakukan mobilitas untuk bertahan hidup dalam kehidupan sesungguhnya. Dari
banyaknya keragaman etnis atau suku di indonesia ini tak jarang dan sering kali
terjadi konflik antar suku, baik dari perbedaan budaya, dan bahkan kebiasaan
sehari hari antar suku tersebut yang sering kali di salah artikan suku lain dan
kurang menghormati budaya suku lain yang sering kali memicu terjadinya konflik.
Pemicu
dari konflik yang disebabkan perbedaan budaya tersebut contohnya yang terjadi
beberapa tahun silam di daerah kalimantan, terutama Kalimantan Tengah . konflik
ini menyebabkan dari kedua suku yaitu Suku Dayak Kalimantan dan Suku Madura.
Hal ini menurut isu yang beredar disebabkan karena ketidak sepahaman antar suku
sehingga menimbulkan konflik yang berdampak kisah tragis di dalamnya. Banyak
ribuan nyawa tidak berdosa harus menanggung akibat dari ketidaksepahaman ini.
Masing-masing Suku dalam penggunaan budaya tersebut adalah untuk
menginterpretasi dari gejala-gejala yang ada dalam benak mereka sendiri, dan
mereka menggunakan kebudayaan tersebut sebagai atribut untuk identitas diri
mereka yang berbeda satu dengan yang lainya.
Konflik
antar suku antara Suku Dayak dengan Suku Madura ini dilatar belakangi oleh
kesalah pahaman dan juga ketidak harmonisan antar suku yang di timbulkan oleh
salah satu suku yang mempunyai keinginan untuk saling menguasai tanpa
memperdulikan dan tidak menghargai kebudayaan suku lain. Terjadinya tindakan
yang merugikan salah satu suku sehingga suku yang dirugikan juga tidak terima
atas perlakuan Suku lain yang merugikan dan ingin menjajah tanah kelahiran suku
mereka. Disini Suku yang merasa di rugikan adalah suku dayak, suku madura yang
sebagai pendatang bertindak anarkis dan bersifat ingin menguasai tanah suku
dayak, banyak sekali pelanggaran pelanggaran yang di langgar oleh suku madura
terhadap suku dayak. Ketidak adilan, tidak menghargai budaya suku dayak dan
ingin menjajah. Suku dayak yang tidak terima atas pelakuan suku madura menjadi
geram dan bertindak untuk melawan, darisinilah timbul perpecahan dan konflik
antar suku berlangsung.[5]
Pemerintah
perlu memberikan suatu pemahaman terhadap kedua belah pihak yang terlibat
konflik dengan cara memberikan pengakuan dan pemahaman bahwa mereka kedua belah
pihak yang berseteru tersebut adalah suatu suku bangsa yang sederajat,
memberikan pemahaman untuk membuat suatu suku bangsa untuk saling memahami dan
berupaya untuk mentaati norma norma yang berlaku dikalangan masyarakat.
Mengadakan kesediaan bagi kedua belah pihak yang berseteru untuk saling
memaafkan, melupakan kejadian yang sudah berlalu dan hidup berdampingan dengan
keharmonisan dengan landasan sebagai bangsa yang satu, yaitu sebagai bangsa
Indonesia.
Selain solusi diatas, Ada beberapa
cara lagi yang dapat dilakukan untuk penyelesaian konflik tersebut, yaitu :
hal ini
pemerintah dan aparat penegak hukum yang memberikan keputusan dan diterima
serta ditaati oleh kedua belah pihak dengan memberikan sanksi yang tegas
apabila. Kejadian seperti ini terlihat setiap hari dan berulangkali di mana saja
dalam masyarakat, bersifat spontan dan informal.
2. Mediasi, yaitu penghentian pertikaian oleh
pihak ketiga tetapi tidak diberikan keputusan yang mengikat.
3. Konsiliasi, yaitu usaha untuk mempertemukan
keinginan pihak-pihak yang berselisih sehingga tercapai persetujuan bersama..
4. Stalemate, yaitu keadaan ketika kedua belah
pihak yang bertentangan memiliki kekuatan yang seimbang, lalu berhenti pada
suatu titik tidak saling menyerang. Keadaan ini terjadi karena kedua belah
pihak tidak mungkin lagi untuk maju atau mundur .
5. Adjudication (ajudikasi), yaitu penyelesaian perkara atau
sengketa di pengadilan dengan mengutamakan sisi keadilan
dan tidak memihak kepada siapapun.
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Pembangunan
merupakan usaha sadar yang perlu dilakukan untuk mengubah nasib.
2.
Pembangunan
yang di laksanakan di indonesia itu tidak hanya mengejar kemajuan lahiriah atau
kepuasan batiniah saja tetapi juga bertujuan mencapai keseimbangan antara
keduanya. Sasaran pembangunan itu bukan saja pembangunan fisik, seperti
jembatan, jalan, gedung, pabrik, atau pertanian melainkan juga pembangunan
mental spritual, moral. Kehidupan beragama, dll.Sasarannya ialah juga
menghormati orang lain, suka menolong, bekerja keras, menghargai karya prang
lain, dan cinta kepada kemajuan merupakan sarana untukmencapai kehidupan rakyat
indonesia yang adil dan makmur.
3.
Dalam konteks yang luas, masalah character
building masih merupakan suatu isu besar, bahkan amat besar. Semua masalah
di negeri ini; korupsi, lemahnya penegakan hukum dan HAM, konflik agama dan
suku, disintegrasi bangsa, kekerasan dan terorisme, kemiskinan dan
pengangguran, kasus kejahatan dan masih banyak lagi adalah lahir dari tidak
adanya watak yang jelas dan kokoh dalam diri kita.
4.
Etnisitas adalah pembagian kelompok berdasar ciri-ciri yang sama dalam halbudaya dan genetis serta bertindak berdasarkan pattern
yang sama.
5. keragaman
etnis atau suku di indonesia tak jarang dan sering kali menyebabkan konflik
antar suku, baik dari perbedaan budaya, dan bahkan kebiasaan sehari hari antar
suku tersebut yang sering kali di salah artikan suku lain dan kurang
menghormati budaya suku lain yang sering kali memicu terjadinya konflik.
6. Upaya
menaggulangi konflik antar sukubangsa dapat dilakukan dengan menggunakan
pendekatan pembenahan pada aspek individu pihak-pihak yang terlibat konflik
melalui pemberian pemahaman dan pembinaan mental secara konsisten dan
berkesinambungan. Hal ini bisa menimbulkan efek persatuan antar suku bangsa dan
mengurangi terjadinya konflik antar suku bangsa di Indonesia.
DAFTAR
PUSTAKA
Budimansyah dasim. 1994. Pendidikan
Pancasila dan Kewarganegaraan.Bandung: CV.EpsilonGrup Bandung
Komaludin Djenal. 1987. Pendidikan
Moral Pancasila.Bandung: Angkasa
Sukadi. 2003. Pendidikan Pancasila
dan Kewarganegaraan. Jakarta: Ganeca Exact
[1]Djamal
Komaludin, Pendidikan Moral Pancasila kelas 2 SMP, hal. 140
[2]
Dirujuk pada artikel character building : modal dasar national building oleh
Trimanto
[3]
Dasim Budimansyah, Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan kelas 1 SMP
(Bandung : Epsilon Grup ) hal.52
[4]
Sukadi, PPKN untuk SLTP kelas 3 (Jakarta:Ganeca Exact) , hal 92
[5]
“Indonesia: The Violence in Central Kalimantan (Borneo). Human Rights Watch, 28
Februari 2001. Diakses pada 12 Oktober 2012

0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !