BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Makalah
“Sejarah Konsep Waktu” merupakan makalah yang kami ajukan untuk memenuhi tugas
mata kuliah IPS SD 1.
Sejarah adalah suatu
ilmu pengetahuan yang mempelajari segala peristiwa atau kejadian yang telah
terjadi pada masa lampau dalam keidupan manusia. Pada abad ke 20 terjadi suatu perdebatan
tentang pandanga terhadap sejarah
Perdebatan itu antara lain mengenai apakah sejarah merupakan cabang dari ilmu
pengetahuan atau merupakan suatu seni.Perdebatan ini melibatkan ahli filsafat
dan ahli sejarah,yang pertama kali di
jerman Sejarah sebagai salah salah satu
cabang ilmu pengetahuan hendaknya di buktikan dan di bahas secara ke ilmuan d ilmiah. Untuk
membuktikan ke ilmiahan maka gunakan metode metode dan standar ilmiah yang dapat di pertanggung jawab kan.
Sifat dan spesifikasi
sejarah di banding ilmu lainnya :
1. Masa lampau yang di
lukiskan secara urutan waktu atau kronologis
2.
Ada hubungan sebab akibat atau kausalitas
3.
Peristiwa sejarah mengangkut masa lampau masa
kini dan masa yang akan datang
( tiga dimensi )
4.
Kebanaran sejarah sifat nya semantara (
merupakan ipotesis yang akan gugur )apabila di temukan data pembuktian yang
baru
B. Rumusan
Masalah
Pendidikan sejarah merupakan salah satu bagian dari pendidikan ilmu
pengetahuan sosial di indonesia. Pada konteksnya pendidikan sejarah mempunyai
tujuan-tujuan yang relefan dengan tujuan pendidikan nasional indonesia
Berdasarkan uraian di
atas, permasalahan yang di ambil dalam makalah ini adalah :
1. Apakah
pengertian sejarah?
2. Apakah
tujuan pendidikan sejarah?
3. Apakah
landasan pendidikan sejarah?
4. Apakah
pendidikan karakter dan budaya itu?
Keempat permasalahan tersebut akan dibahas pada bab II
dan dari pembahasan tersebut disimpulkan pada bab III.
C. Tujuan dan Manfaat
1. Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah :
1). Memahami pengertian sejarah.
2). Memahami tujuan
pendidikan sejarah.
3). Memahami landasan
pendidikan sejarah.
4). Memahami pendidikan karakter
dan budaya.
Makalah ini akan sangat
bermanfaat bagi pemerhati pendidikan sejarah. Semoga dengan adanya makalah ini
dapat menambah wawasan para pembaca. Sehingga dapat diambil manfaatnya.
D. Prosedur Pemecahan Masalah
Masalah yang telah dikemukakan di atas akan diselesaikan
dengan menggunakan dua pendekatan yaitu pendekatan teori dan praktis, secara
teori akan menggunakan kajian-kajian pustaka yang relevan dan makalah,
sedangkan secara praktis dengan menggunakan data-data yang tersedia di
lapangan.
E.
Sistematika Penulisan
Berangkat dari permasalahan yang ada maka sistematika
penulisan dalam makalah ini adalah:
2.1 pengertian
sejarah
2.2
tujuan pendidikan sejarah
2.3
landasan pendidikan sejarah
2.4
pendidikan karakter dan budaya
BAB II
ISI
2.1 Pengertian Sejarah
Berbicara mengenai sejarah pandangan kita tidak akan
rerlepas dari Peristiwa masalampau. Sejarah merupakan pengetahuanpenting dalam
keidupan suatu bangsa.Dengan
mempelajari sejarah dapat gambaran kehidupan masa lalu. Atau mengetahui kejadian kejadian yang terjadi masalampau.
A. Pengertian
Sejarah secara Konseptual :
a)
Dalam
bahasa Arab adalah Syajaratun yang berarti pohon. Sejarah Arab di ambil dari
silsilah raja raja Arab.Silsilah kalau di balik menyerupai sebuah pohon dari
batang hingga ranting sekalipun.
b)
Dalam
bahasa Inggis adalah History artinya Masalampau umat manusia.
c)
Dalam
bahasa jerman adalah Geschicht artinya Sesuatu yang telah terjadi.
B.
Pengertian
Sejarah menurut pendapat para Ahli ;
a)
Ibnu khaldum (1332-1406 )
Dalam
bukunya berjudul muka dimah ia mendefenisikan sejarah adalah “catatan tentang
masyarakat umat manusia atau peradaban dunia dan tentang perobaha perobahan
yang terjadi pada watak masyarakat itu
b)
Purwa dinata
Sejarah mengandung tiga pengertian :
1.
Sejarah sebagai silsilah/asal usul
2.
Sejarah
berarti kejadian dan peristiwa yang benar benar terjadi pada masa lampau
3.
Sejarah
berarti Ilmu pengetahuan,cerita pelajaran tentang kejadian di sekitar kita
c) Muhammad ali ( pengantar ilmu sejarah )
1. Jumlah perubahan- perubahan , kejadian,atau peristiwa
kenyataan di sekitar kita
2. Cerita tentang perobahan ,kejadian,atau peristiwa
kenyataan di sekitar kita
3. Ilmu yang bertugas menyelidiki perubahan-perubahan,kejadian
peristiwa kenyataan di sekitar kita
Berdasarkan
beberapa pengertian para ahli tersebut maka pengertian sejarah dapat
disimpulkan secara umum sebagai berikut :
1.
Peristiwa-peristiwa
yang benar-benar terjadi,pada masa lampau dalam kehidupan manusia sebagai makhluk
sosial.
2.
Cerita,kisah,catatan
tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi masa lampau yang di susun berdasarkan
peninggalan atau sumber-sumber sejarah.
3.
Ilmu
yang mempelajari peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa lampau.
C. Sejarah dari berbagai sudut pandang
Sejarah dapat dilihat dari berbagai sudut pandang,
yaitu :
a)
Sejarah sebagai Peristiwa
Sejarah merupakan peristiwa yang terjadi pada masa
lampau. Sehingga sejarah sebagai peristiwa yaitu peristiwa yang sebenarnya
telah terjadi atau berlangsung
pada waktu lampau. Sejarah melihat sebagaimanaseperti apa yang seharusnya
terjadi (histoir realite).
Sejarah sebagai peristiwa merupakan suatu kejadian di masa lampau yang hanya
sekali terjadi serta tidak bisa diulang.
Ciri utama dari Sejarah sebagai peristiwa adalah
sebagai berikut:
· Abadi, karena
peristiwa tersebut tidak berubah-ubah. Sebuah peristiwa yang sudah terjadi dan
tidak akan berubah ataupun diubah. Oleh karena itulah maka peristiwa tersebut akan tetap dikenang
sepanjang masa.
·
Unik,
karena peristiwa itu
hanya terjadi satu kali. Peristiwa tersebut tidak dapat diulang jika ingin
diulang tidak akan sama persis.
·
Penting,
karena peristiwa
yang terjadi tersebut mempunyai arti bagi seseorang bahkan dapat pula
menentukan kehidupan orang banyak.
Tidak
semua peristiwa dapat dikatakan sebagai sejarah. Sebuah kenyataan sejarah dapat
diketahui melalui bukti-bukti sejarah yang dapat menjadi saksi terhadap
peristiwa yang telah terjadi. Agar sebuah peristiwa dapat dikatakan sebagai
sejarah maka harus memenuhi ciri-ciri berikut ini :
·
Peristiwa
tersebut berhubungan dengan kehidupan manusia baik sebagai individu maupun
kelompok.
·
Memperhatikan
dimensi ruang dan waktu (kapan dan dimana).
·
Peristiwa
tersebut dapat dikaitkan dengan peristiwa yang lain
Contoh: peristiwa ekonomi yang terjadi bisa
disebabkan oleh aspek politik, sosial
dan budaya.
·
Adanya
hubungan sebab-akibat dari peristiwa tersebut adalah adanya hubungan sebab akibat baik karena faktor dari
dalam maupun dari luar peristiwa tersebut sedangkan Penyebab adalah hal yang menyebabkan peristiwa
tersebut terjadi.
·
Peristiwa
sejarah yang terjadi merupakan sebuah perubahan dalam kehidupan. Hal ini
disebabkan karena sejarah pada hakekatnya adalah sebuah perubahan dalam
kehidupan manusia. Selain itu, sejarah mempelajari aktivitas manusia dalam
konteks waktu. Perubahan tersebut dapat meliputi berbagai aspek kehidupan
seperti politik, sosial, ekonomi, dan budaya.
Peristiwa
adalah kenyataan yang bersifat absolut atau mutlak dan objektif. Sejarah
sebagai peristiwa merupakan suatu kenyataan yang objektif artinya kenyataan
yang benar-benar ada dan terjadi dalam kehidupan masyarakat manusia. Kenyataan
ini dapat dilihat dari fakta-fakta sejarahnya. Peristiwa-peristiwa sejarah
tersebut dapat dilihat dari berbagai aspek kehidupan manusia seperti peristiwa
politik, ekonomi, dan sosial.
b)
Sejarah sebagai Kisah
Sejarah sebagai kisah merupakan rekonstruksi dari suatu peristiwa yang
dituliskan maupun diceritakan oleh seseorang. Sejarah sebagai sebuah
kisah dapat berbentuk lisan dan tulisan.Contoh penuturan secara lisan baik yang
dilakukan oleh seorang maupun kelompok tentang peristiwa yang telah terjadi. Bentuk tulisan, dapat berupa kisah
yang ditulis dalam buku-buku sejarah.Sejarah sebagai kisah sifatnya akan
subjektif karena tergantung pada interpretasi atau penafsiran yang dilakukan
oleh penulis sejarah. Subjektivitas terjadi lebih banyak diakibatkan oleh
faktor-faktor kepribadian si penulis atau penutur cerita.
Sejarah sebagai kisah dapat berupa narasi yang
disusun berdasarkan memori, kesan, atau tafsiran manusia terhadap kejadian atau
peristiwa yang terjadi pada waktu lampau. Sejarah sebagai kisah dapat diulang,
ditulis oleh siapapun dan kapan saja. Untuk mewujudkan sejarah sebagai kisah
diperlukan fakta-fakta yang diperoleh atau dirumuskan dari sumber sejarah.
Tetapi tidak semua fakta sejarah dapat diangkat dan dikisahkan hanya peristiwa
penting yang dapat dikisahkan.
Faktor yang harus diperhatikan dan mempengaruhi
dalam melihat sejarah sebagai kisah, adalah sebagai berikut :
·
Kepentingan yang diperjuangkannya
Faktor kepentingan dapat terlihat dalam cara
seseorang menuliskan dan menceritakan kisah/peristiwa sejarah. Kepentingan
tersebut dapat berupa kepentingan pribadi maupun kepentingan kelompok.
Contoh: Seorang pencerita biasanya akan lebih
menonjolkan perannya sendiri dalam suatu peristiwa. Misalnya, seorang pejuang
akan menceritakan kehebatanya dalam menghadapai penjajah.
·
Kelompok sosial dimana dia berada
Dalam hal ini adalah lingkungan tempat ia bergaul,
berhubungan dengan sesama pekerjaannya atau statusnya. Darimana asal pencerita
sejarah tersebut juga mempengaruhi cara penulisan sejarah.
Contoh:Seorang sejarawan akan menulis sejarah dengan
menggunakan kaidah akademik ilmu sejarah sedang seorang wartawan akan menulis
sejarah dengan bahasa wartawan.
·
Perbendaharaan pengetahuan yang dimilikinya
Pengetahuan dan latar belakang kemampuan ilmu yang
dimiliki pencerita sejarah juga mempengaruhi kisah sejarah yang disampaikan. Hal
tersebut dapat terlihat dari kelengkapan kisah yang akan disampaikan, gaya
penyampaian, dan interpretasinya atas peristiwa sejarah yang akan
dikisahkannya.
·
Kemampuan bahasa yang dimilikinya
Pengaruh kemampuan bahasa seorang penutur/pencerita
sejarah sebagai kisah terlihat dari hasil rekonstruksi penuturan kisah sejarah.
Hal ini akan sangat bergantung pada kemampuan bahasa si penutur kisah sejarah.
c)
Sejarah sebagai Ilmu
Sejarah merupakan ilmu yang mempelajari masa lampau
manusia. Sebagai ilmu, sejarah merupakan ilmu
pengetahuan ilmiah yang memiliki seperangkat metode dan teori yang
dipergunakan untuk meneliti dan menganalisa serta menjelaskan kerangka masa
lampau yang dipermasalahkan.
Sejarawan harus menulis apa yang sesungguhnya
terjadi sehingga sejarah akan menjadi objektif. Sejarah melihat manusia
tertentu yang mempunyai tempat dan waktu tertentu serta terlibat dalam kejadian
tertentu sejarah tidak hanya melihat manusia dalam gambaran dan angan-angan
saja.
Sejarah sebagai ilmu memiliki objek, tujuan dan
metode. Sebagai ilmu sejarah bersifat empiris dan tetap berupaya menjaga
objektiviatsnya sekalipun tidak dapat sepenuhnya menghilangkan subjektifitas.
Menurut Kuntowijoyo, ciri-ciri atau karakteristik
sejarah sebagai ilmu adalah sebagai berikut:
·
Bersifat Empiris
Empiris berasal dari kata Yunani emperia artinya pengalaman,
percobaan, penemuan, pengamatan yang dilakukan.Bersifat empiris sebab sejarah
melakukan kajian pada peristiwa yang sungguh terjadi di masa lampau. Sejarah
akan sangat tergantung pada pengalaman dan aktivitas nyata manusia yang direkam
dalam dokumen. Untuk selanjutnya dokumen tersebut diteliti oleh para sejarawan
untuk menemukan fakta yang akan diinterpretasi/ditafsirkan menjadi tulisan
sejarah. Sejarah hanya meninggalkan jejak berupa dokumen.
·
Memiliki Objek
Objek sejarah yaitu perubahan atau perkembangan
aktivitas manusia dalam dimensi waktu (masa lampau). Waktu merupakan unsur
penting dalam sejarah. Waktu dalam hal ini adalah waktu lampau sehingga asal
mula maupun latar belakang menjadi pembahasan utama dalam kajian sejarah.
·
Memiliki Teori
Teori merupakan pendapat yang dikemukakan sebagai
keterangan mengenai suatu peristiwa. Teori dalam sejarah berisi satu kumpulan
tentang kaidah-kaidah pokok suatu ilmu. Teori tersebut diajarkan berdasarkan
keperluan peradaban. Rekonstruksi sejarah yang dilakukan mengenal adanya teori
yang berkaitan dengan sebab akibat, eksplanasi, objektivitas, dan subjektivitas.
·
Memiliki Metode
Metode merupakan cara yang teratur dan terpikir baik
untuk mencapai suatu maksud. Setiap ilmu tentu memiliki tujuan. Tujuan dalam
ilmu sejarah adalah menjelaskan perkembangan atau perubahan kehidupan
masyarakat. Metode dalam ilmu sejarah diperlukan untuk menjelaskan perkembangan
atau perubahan secara benar. Dalam sejarah dikenal metode sejarah guna mencari
kebenaran sejarah. Sehingga seorang sejarawan harus lebih berhati-hati dalam
menarik kesimpulan jangan terlalu berani tetapi sewajarnya saja.
·
Mempunyai Generalisasi
Studi dari suatu ilmu selalu ditarik suatu
kesimpulan. Kesimpulan tersebut menjadi kesimpulan umum atau generalisasi. Jadi
generalisasi merupakan sebuah kesimpulan umum dari pengamatan dan pemahaman
penulis.
d)
Sejarah sebagai Seni
Sejarah sebagai seni merupakan suatu kemampuan menulis yang baik dan
menarik mengenai suatu kisah/ peristiwa di masa lalu.Seni dibutuhkan dalam
penulisan karya sejarah karena:
·
Jika
hanya mementingkan data-data maka akan sangat kaku dalam berkisah.
·
Tetapi
jika terlalu mementingkan aspek seni maka akan menjadi kehilangan fakta yang
harus diungkap.
·
Sehingga
seni dibutuhkan untuk memperindah penuturan/ pengisahan suatu cerita.
·
Seperti
seni, sejarah juga membutuhkan intuisi, imajinasi, emosi dan gaya bahasa.
·
Seorang
sejarawan sebaiknya mampu mengkombinasikan antara pengisahan (yang mementingkan
detail dan fakta-fakta) dengan kemampuannya memanfaatkan intuisi dan
imajinasinya sehingga dapat menyajikan peristiwa yang objektif, lancar, dan
mengalir.
Ciri sejarah sebagai
seni, terdapat :
·
Intuisi
Intuisi merupakan kemampuan mengetahui dan memahami
sesuatu secara langsung mengenai suatu topik yang sedang diteliti. Dalam
penelitian untuk menentukan sesuatu sejarawan membutuhkan intuisi dan untuk mendapatkannya
ia harus bekerja keras dengan data yang ada. Seorang sejarawan harus tetap
ingat akan data-datanya, harus dapat membayangkan apa yang sebenarnya terjadi
dan apa yang terjadi sesudahnya. Berbeda dengan seorang seniman jika ingin
menulis mungkin ia akan berjalan-jalan sambil menunggu ilham sebelum
melanjutkan proses kreatifnya.
·
Emosi
Emosi merupakan luapan perasaan yang berkembang.Emosi
diperlukan guna mewariskan nilai-nilai tertentu asalkan penulisan itu tetap
setia pada fakta. Dengan melibatkan emosi, mengajak pembaca seakan-akan hadir
dan menyaksikan sendiri peristiwa itu.
·
Gaya Bahasa
Gaya bahasa merupakan cara khas dalam menyatakan
pikiran dan perasaan dalam bentuk tulisan atau lisan. Gaya bahasa diperlukan
sejarawan guna menuliskan sebuah peristiwa. Gaya bahasa yang baik yaitu yang
dapat menggambarkan detail-detail sejarah secara lugas dan tidak
berbelit-belit.
·
Imajinasi
Imajinasi merupakan daya pikiran untuk membayangkan
kejadian berdasarkan kenyataan atau pengalaman seseorang (khayalan). Imajinasi
diperlukan sejarawan untuk membayangkan apa yang sebenarnya terjadi, apa yang
sedang terjadi, serta apa yang akan terjadi.
2.2 Tujuan Pendidikan Sejarah
Berdasarkan pengalaman
yang terjadi dan
melihat perkembangan yang dialami
masyarakat Indonesia masa
kini serta prospek
kehidupan di masa mendatang, pendidikan
sejarah di masa mendatang
harus dapat mempersiapkan siswa untuk
kehidupan yang dikuasai
oleh arus informasi
yang beragam dalam tingkat accessibility yang luas dan kecepatan
yang tinggi pula. Siswa yang akan
hidup sebagai para
pemuka bangsa, pejabat
pemerintah, para pemimpin
dunia ekonomi, para pemimpin
sosial budaya, dan pemimpin lain tidak mungkin tidak dapat menghindari
dari arus informasi. Sementara itu, tidak ada satu jaminan pun yang dapat diberikan bahwa informasi yang diterima dari
berbagai media tidak terkontaminasi oleh
ketidakakuratan hasutan, pergunjingan, dan berbagai
bias pribadi yang dilingkupi oleh berbagai kepentingan tertentu. Oleh
karena itu, siswa haruslah terlatih baik menghadapi dan hidup dalam situasi itu
dan dapat mengatasi keadaan yang tidak
diingingkan serta memiliki
kemampuan membangun kehidupan
yang tidak terganggu oleh berbagai macam ancaman tersebut.
Yang mampu
melakukan kritik terhadap setiap informasi yang diterimanya. Mampu mengenal
berbagai bias yang
terkandung di dalam
informasi tersebut. Mampu menarik
berbagai simpulan dari
informasi tersaring dan teruji
kebenarannya. Materi pendidikan
sejarah memiliki kualitas
dan karakteristik yang mampu
mengembangkan kualitas yang dimaksudkan.
Tujuan pendidikan sejarah menurut Bourdillon (1994)
idealnya adalah membantu peserta
didik meraih kemampuan sebagai berikut :
(1)
memahami masa lalu dalam konteks masa kini,
(2) membangkitkan minat terhadap
masa lalu yang bermakna,
(3)
membantu memahami identitas
diri, keluarga ,
masyarakat dan bangsanya
,
(4) membantu
memahami akar budaya dan inter relasinya dengan berbagai aspek kehidupan nyata
(5) memberikan pengetahuan dan pemahaman
tentang negara dan budaya bangsa
lain di berbagai
belahan dunia ,
(6)
melatih berinkuiri dan
memecahkan masalah ,
(7)
memperkenalkan pola berfikir
ilmiah dari para
ilmuwan sejarah sejarah
, dan
(8) mempersiapkan peserta
didik untuk menempuh pendidikan yang
lebih tinggi .
Pokok – pokok pemikiran
tentang tujuan pendidikan
sejarah tersebut di atas juga terkandung di dalam rumusan
tujuan pendidikan sejarah di
Indonesia. Hal senada dikemukakan
juga dalam rumusan tujuan
pendidikan sejarah di
Indonesia , yang
menyatakan bahwa pendidikan sejarah
bertujuan untuk menyadarkan
siswa akan adanya
proses perubahan dan perkembangan
masyarakat dalam dimensi waktu, dan
untuk membangun perspektif serta kesadaran sejarah dalam menemukan , memahami ,
dan menjelaskan jati diri bangsa di
masa lalu ,
masa kini ,
dan masa depan
ditengah – tengah
perubahan dunia ( Depdiknas,2003).
Dalam konteks mengenai masa
depan, tujuan pendidikan sejarah sudah harus lebih dikembangkan dari
apa yang sudah dikembangkan pada saat sekarang. Jika pada
saat sekarang tujuan
yang dikembangkan terutama berkenaan dengan pengembangan pengetahuan, pemahaman, wawasan
mengenai berbagai peristiwa yang terjadi ditanah air dan di luar tanah air,
pengembangan sikap kebangsaan dan sikap toleransi, maka pada masa mendatang tujuan pendidikan
sejarah hendaklahberkenaan dengan kualitas
baru minimal yang
seyogianya dimiliki anggota masyarakat.
Tujuan
pendidikan sejarah di masa
mendatang (Hamid Hasan,
1999:8) adalah:
1) Pengetahuan dan pemahaman
terhadap peristiwa sejarah yang cukup mendasar untuk digunakan
sebagai memahami lingkungan
sekitarnya, membangun semangat
nasionalisme dansikap toleransi.
2) Kemampuan
berpikir kritis yang dapat
digunakan untuk mengkaji
dan memanfaatkan pengetahuan sejarah, keterampilan sejarah, dan nilai
peristiwa sejarah dalam membina kehidupan yang memerlukan banyak putusan kritis
dan dalam menerapkan keterampilan sejarah untuk mamahami berbagai peristiwa
sosial, politik, ekonomi, dan budaya yang terjadi disekitarnya.
3) keterampilan
sejarah yang dapat digunakan siswa dalam membagi berbagai informasi yang sampai
kepadanya untuk menentukan kesahihan informasi, memahami dan mengkaji setiap
perubahan yang terjadi dalam masyarakat sekitarnya, dan digunakan dalam
mengembangkan nilai-nilai positif
menjadi milik dirinya dan nilai-nilai negative untuk pelajaran yang
tidak diulangi dan meniru keteladanan yang ditunjukan oleh berbagai pelaku
dalam berbagai peristiwa sejarah
2.3
Landasan Pendidikan Sejarah
Landasan adalah dasar
tempat berpijak atau tempat di mulainya suatu perbuatan. Dalam bahasa Inggris,
landasan disebut dengan istilah foundation, yang dalam bahasa Indonesia menjadi fondasi. Fondasi merupakan bagian
terpenting untuk mengawali sesuatu.
Adapun menurut S. Wojowasito, (1972: 161), bahwa landasan dapat diartikan
sebagai alas, ataupun dapat diartikan sebagai fondasi, dasar, pedoman dan
sumber.
Dari pengertian diatas
dapat disimpulkan bahwa Landasan pendidikan sejarah adalah pedoman atau dasar
bagaimana pendidikan sejarah dilaksanakan.
Pendidikan sejarah harus berlandaskan hal-hal sebagai
berikut :
Ø Politik
Politik adalah proses pembentukan dan pembagian kekuasaan dalam masyarakat yang antara lain berwujud proses pembuatan
keputusan, khususnya dalam negara.
Ø Akademik
Kata akademik berasal dari bahasa Yunani yakni academos yang berarti sebuah taman umum
(plasa) di sebelah barat laut kota Athena. Nama Academos adalah nama seorang
pahlawan yang terbunuh pada saat perang legendaris Troya. Pada plasa inilah
filosof Socrates berpidato dan membuka arena perdebatan tentang berbagai hal.
Tempat ini juga menjadi tempat Plato melakukan dialog dan mengajarkan
pikiran-pikiran filosofisnya kepada orang-orang yang datang. Sesudah itu, kata
acadomos berubah menjadi akademik, yaitu semacam tempat perguruan. Para
pengikut perguruan tersebut disebut academist, sedangkan perguruan semacam itu
disebut academia.Berdasarkan hal ini, inti dari pengertian akademik adalah
keadaan orang-orang bisa menyampaikan dan menerima gagasan, pemikiran, ilmu
pengetahuan, dan sekaligus dapat mengujinya secara jujur, terbuka, dan leluasa
(Fadjar, 2002 : 5).
Seperti
ilmu pengetahuan sosial lainnya, pendidikan sejarah harus mempunyai karakter
psikopedagogis. Pendidikan sejarah harus disesuaikan dengan tingkatan kemampuan
siswa yang akan dijadikan subjek pembelajaran.artinya tingkatan akademik sangat
berpengaruh terhadap isi pendidikan sejarah tersebut.
Ø Filosofi
·
Rekonstruksionisme
Rekonstruksionisme berasal dari bahasa inggris Reconstruct yang berarti menyusun
kembali. Dalam konteks filsafat pendidikan aliran rekonstruksionisme adalah
suatu aliran yang berusaha merombak tata susunan lama dan membangun tata
susunan hidup kebudayaan yang bercorak modern. Pendidikan sejarah harus bisa
menyusun kembali peristiwa- peristiwa masa lalu.
·
Humanisme
Humanisme sebagai suatu aliran dalam filsafat, memandang
manusia itu bermartabat luhur, mampu menentukan nasib sendiri, dan dengan
kekuatan sendiri mampu mengembangkan diri. Pandangan ini disebut pandangan
humanistis atau humanisme. Pendidikan sejarah harus dapat merubah peserta didik
menjadi bermartabat, dan beradab
·
Perenialisme
Perenialisme berasal dari kata perennial yang berarti
abadi, kekal atau selalu. Mohammad Noor Syam(1984) mengemukakan pandangan
perenialis, bahwa pendidikan harus lebih banyak mengarahkan pusat perhatiannya
pada kebudayaan ideal yang telah teruji dan tangguh. Perenialisme memandang
pendidikan sebagai jalan kembali atau proses mengembalikan keadaan manusia
sekarang seperti dalam kebudayaan ideal. konsepsi pendidikan didasarkan oleh
pertanyaan, apakah yang paling utama untuk menghadapi tantangan krisis masa
depan. Pendidikan sejarah harus berisi warisan-warisan budaya masa lalu, yang diharapkan dapat mempersiapkan peserta didik
untuk menghadapi masa depan.
·
Esensialisme
Esensialisme adalah istilah yang mencakup paham yang
meneliti esensi, yaitu apa yang membuat sesuatu adalah
sesuatu tersebut.
Dalam filsafat pendidikan, esensialisme
menghendaki bahwa pendidikan itu hendaknya didasarkan atas nilai-nilai yang
tinggi, yang kedudukanya essensial dalam kebudayaan. Dalam hal ini pendidikan sejarah
harus mencakup pemaknaan suatu peristiwa sejarah.
2.4
Pendidikan Karakter dan Budaya
Untuk mendapatkan wawasan mengenai arti pendidikan budaya dan karakter
bangsa perlu dikemukakan pengertian istilah budaya, karakter bangsa, dan
pendidikan.
Pengertian yang dikemukakan di sini dikemukakan secara teknis dan digunakan dalam mengembangkan pedoman ini. Guru-guru Antropologi, Pendidikan Kewarganegaraan, dan mata pelajaran lain, yang istilah-istilah itu menjadi pokok bahasan dalam matapelajaran terkait, tetap memiliki kebebasan sepenuhnya membahas dan berargumentasi mengenai istilah-istilah tersebut secara akademik.
Pengertian yang dikemukakan di sini dikemukakan secara teknis dan digunakan dalam mengembangkan pedoman ini. Guru-guru Antropologi, Pendidikan Kewarganegaraan, dan mata pelajaran lain, yang istilah-istilah itu menjadi pokok bahasan dalam matapelajaran terkait, tetap memiliki kebebasan sepenuhnya membahas dan berargumentasi mengenai istilah-istilah tersebut secara akademik.
Budaya
diartikan sebagai keseluruhan sistem berpikir, nilai, moral, norma, dan
keyakinan (belief) manusia yang dihasilkan masyarakat. Sistem berpikir, nilai,
moral,norma, dan keyakinan itu adalah hasil dari interaksi manusia dengan
sesamanya dan lingkungan alamnya. Sistem berpikir, nilai, moral, norma dan
keyakinan itu digunakan dalam kehidupan manusia dan menghasilkan sistem sosial,
sistem ekonomi, sistem kepercayaan, sistem pengetahuan, teknologi, seni, dan
sebagainya. Manusia sebagai makhluk sosial menjadi penghasil sistem berpikir,
nilai, moral, norma, dan keyakinan; akan tetapi juga dalam interaksi dengan
sesama manusia dan alam kehidupan, manusia diatur oleh sistem berpikir, nilai,
moral, norma, dan keyakinan yang telah dihasilkannya. Ketika kehidupan manusia
terus berkembang, maka yang berkembang sesungguhnya adalah sistem sosial,
sistem ekonomi, sistem kepercayaan, ilmu, teknologi, serta seni. Pendidikan
merupakan upaya terencana dalam mengembangkan potensi peserta didik, sehingga
mereka memiliki sistem berpikir, nilai, moral, dan keyakinan yang diwariskan
masyarakatnya dan mengembangkan warisan tersebut ke arah yang sesuai untuk
kehidupan masa kini dan masa mendatang.
Karakter
adalah watak, tabiat, akhlak, atau kepribadian seseorang yang terbentuk dari
hasil internalisasi berbagai kebajikan (virtues) yang diyakini dan digunakan
sebagai landasan untuk cara pandang, berpikir, bersikap, dan bertindak.
Kebajikan terdiri atas sejumlah nilai, moral, dan norma, seperti jujur, berani
bertindak, dapat dipercaya, dan hormat kepada orang lain. Interaksi seseorang
dengan orang lain menumbuhkan karakter masyarakat dan karakter bangsa. Oleh
karena itu, pengembangan karakter bangsa hanya dapat dilakukan melalui pengembangan
karakter individu seseorang.
Akan tetapi,
karena manusia hidup dalam ligkungan sosial dan budaya tertentu, maka
pengembangan karakter individu seseorang hanya dapat dilakukan dalam lingkungan
sosial dan budaya yang berangkutan. Artinya, pengembangan budaya dan karakter
bangsa hanya dapat dilakukan dalam suatu proses pendidikan yang tidak
melepaskan peserta didik dari lingkungan sosial,budaya masyarakat, dan budaya
bangsa. Lingkungan sosial dan budaya bangsa adalah Pancasila, jadi pendidikan
budaya dan karakter bangsa haruslah berdasarkan nilai-nilai Pancasila. Dengan
kata lain, mendidik budaya dan karakter bangsa adalah mengembangkan nilai-nilai
Pancasila pada diri peserta didik melalui pendidikan hati, otak, dan fisik.
Pendidikan
adalah suatu usaha yang sadar dan sistematis dalam mengembangkan potensi
peserta didik. Pendidikan adalah juga suatu usaha masyarakat dan bangsa dalam
mempersiapkan generasi mudanya bagi keberlangsungan kehidupan masyarakat dan
bangsa yang lebih baik di masa depan. Keberlangsungan itu ditandai oleh
pewarisan budaya dan karakter yang telah dimiliki masyarakat dan bangsa. Oleh
karena itu, pendidikan adalah proses pewarisan budaya dan karakter bangsa bagi
generasi muda dan juga proses pengembangan budaya dan karakter bangsa untuk
peningkatan kualitas kehidupan masyarakat dan bangsa di masa mendatang. Dalam
proses pendidikan budaya dan karakter bangsa, secara aktif peserta didik
mengembangkan potensi dirinya, melakukan proses internalisasi, dan penghayatan nilai-nilai
menjadi kepribadian mereka dalam bergaul di masyarakat, mengembangkan kehidupan
masyarakat yang lebih sejahtera, serta mengembangkan kehidupan bangsa yang
bermartabat.
Berdasarkan
pengertian budaya, karakter bangsa, dan pendidikan yang telah dikemukakan di
atas maka pendidikan budaya dan karakter bangsa dimaknai sebagai pendidikan
yang mengembangkan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa pada diri peserta
didik sehingga mereka memiliki nilai dan karakter sebagai karakter dirinya,
menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan dirinya, sebagai anggota
masyarakat, dan warganegara yang religius, nasionalis, produktif dan kreatif .
Atas dasar
pemikiran itu, pengembangan pendidikan budaya dan karakter sangat strategis
bagi keberlangsungan dan keunggulan bangsa di masa mendatang. Pengembangan itu
harus dilakukan melalui perencanaan yang baik, pendekatan yang sesuai, dan
metode belajar serta pembelajaran yang efektif. Sesuai dengan sifat suatu
nilai, pendidikan budaya dan karakter bangsa adalah usaha bersama sekolah; oleh
karenanya harus dilakukan secara bersama oleh semua guru dan pemimpin sekolah,
melalui semua mata pelajaran, dan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari
budaya sekolah.
Ø
Fungsi pendidikan budaya
dan karakter bangsa adalah:
1. pengembangan: pengembangan potensi peserta didik untuk menjadi
pribadi berperilaku baik; ini bagi peserta didik yang telah memiliki sikap dan
perilaku yang mencerminkan budaya dan karakter bangsa;
2. perbaikan memperkuat kiprah pendidikan nasional untuk bertanggung
jawab dalam pengembangan potensi peserta didik yang lebih bermartabat; dan
3. penyaring: untuk menyaring budaya bangsa sendiri dan budaya bangsa
lain yang tidak sesuai dengan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa yang bermartabat.
Ø
Tujuan pendidikan budaya
dan karakter bangsa adalah:
1. mengembangkan potensi kalbu/nurani/afektif peserta didik sebagai
manusia dan warganegara yang memiliki nilai-nilai budaya dan karakter bangsa.
2. mengembangkan kebiasaan dan perilaku peserta didik yang terpuji dan
sejalan dengan nilai-nilai universal dan tradisi budaya bangsa yang religious.
3. menanamkan jiwa kepemimpinan dan tanggung jawab peserta didik sebagai
generasi penerus bangsa.
4. mengembangkan kemampuan peserta didik menjadi manusia yang mandiri,
kreatif, berwawasan kebangsaan; dan
5. mengembangkan lingkungan kehidupan sekolah sebagai lingkungan
belajar yang aman, jujur, penuh kreativitas dan persahabatan, serta dengan rasa
kebangsaan yang tinggi dan penuh kekuatan (dignity).
Ø
Nilai-nilai dalam
Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa
Nilai-nilai yang dikembangkan dalam pendidikan budaya dan karakter
bangsa diidentifikasi dari sumber-sumber berikut ini.
1. Agama: masyarakat Indonesia adalah masyarakat beragama. Oleh karena
itu, kehidupan individu, masyarakat, dan bangsa selalu didasari pada ajaran
agama dan kepercayaannya. Secara politis, kehidupan kenegaraan pun didasari
pada nilai-nilai yang berasal dari agama. Atas dasar pertimbangan itu, maka
nilai-nilai pendidikan budaya dan karakter bangsa harus didasarkan pada
nilai-nilai dan kaidah yang berasal dari agama.
2. Pancasila: negara kesatuan Republik Indonesia ditegakkan atas
prinsip-prinsip kehidupan kebangsaan dan kenegaraan yang disebut Pancasila. Pancasila
terdapat pada Pembukaan UUD 1945 dan dijabarkan lebih lanjut dalam pasal-pasal
yang terdapat dalam UUD 1945. Artinya, nilai-nilai yang terkandung dalam
Pancasila menjadi nilai-nilai yang mengatur kehidupan politik, hukum, ekonomi,
kemasyarakatan, budaya, dan seni. Pendidikan budaya dan karakter bangsa
bertujuan mempersiapkan peserta didik menjadi warga negara yang lebih baik,
yaitu warga negara yang memiliki kemampuan, kemauan, dan menerapkan nilainilai
Pancasila dalam kehidupannya sebagai warga negara.
3. Budaya: sebagai suatu kebenaran bahwa tidak ada manusia yang hidup
bermasyarakat yang tidak didasari oleh nilai-nilai budaya yang diakui
masyarakat itu. Nilai-nilai budaya itu dijadikan dasar dalam pemberian makna
terhadap suatu konsep dan arti dalam komunikasi antaranggota masyarakat itu.
Posisi budaya yang demikian penting dalam kehidupan masyarakat mengharuskan
budaya menjadi sumber nilai dalam pendidikan budaya dan karakter bangsa.
4. Tujuan Pendidikan Nasional: sebagai rumusan kualitas yang harus
dimiliki setiap warga negara Indonesia, dikembangkan oleh berbagai satuan
pendidikan di berbagai jenjang dan jalur. Tujuan pendidikan nasional memuat
berbagai nilai kemanusiaan yang harus dimiliki warga negara Indonesia. Oleh
karena itu, tujuan pendidikan nasional adalah sumber yang paling operasional
dalam pengembangan pendidikan budaya dan karakter bangsa.
Berdasarkan keempat
sumber nilai itu, teridentifikasi sejumlah nilai untuk pendidikan budaya dan
karakter bangsa sebagai berikut ini.
1. Nilai Religius yaitu Sikap dan perilaku yang patuh dalam
melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah
agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain.
2. Nilai Jujur yaitu Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan
dirinya sebagai orang yang selalu dapat
dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan.
3. Nilai Toleransi yaitu Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan
agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari
dirinya.
4. Disiplin yaitu Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh
pada berbagai ketentuan dan peraturan
5. Nilai Kerja yaitu Keras Perilaku yang menunjukkan upaya
sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan belajar dan tugas, serta
menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya
7. Nilai Mandiri yaitu Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung
pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.
8. Nilai Demokratis yaitu Cara berfikir, bersikap, dan bertindak yang
menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.
9. Nilai Rasa Ingin Tahu yaitu Sikap dan tindakan yang selalu berupaya
untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajarinya,
dilihat, dan didengar
10. Nilai Semangat Kebangsaan yaitu Cara berpikir,
bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di
atas kepentingan diri dan kelompoknya
11. Nilai Cinta Tanah Air yaitu Cara berfikir, bersikap, dan berbuat
yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap
bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa
12. Nilai Menghargai Prestasi yaitu Sikap dan tindakan yang mendorong
dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta
menghormati keberhasilan orang lain
13. Nilai Bersahabat/Komuniktif yaitu Tindakan yang memperlihatkan rasa
senang berbicara, bergaul, dan bekerja sama dengan orang lain
14. Nilai Cinta Damai yaitu Sikap, perkataan, dan tindakan yang
menyebabkan orang lain merasa senang dan aman atas kehadiran dirinya
15. Gemar Membaca yaitu Kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca
berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya
16. Nilai Peduli Lingkungan yaitu Sikap dan tindakan yang selalu
berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan
mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.
17. Nilai Peduli Sosial yaitu Sikap dan tindakan yang selalu ingin
memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan
18. Nilai Tanggung-jawab yaitu Sikap dan perilaku seseorang untuk
melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri
sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya), negara dan Tuhan
Yang Maha Esa.
Sekolah dan guru
dapat menambah atau pun mengurangi nilai-nilai tersebut sesuai dengan kebutuhan
masyarakat yang dilayani sekolah dan hakekat materi SK/KD dan
materi bahasan suatu mata pelajaran. Meskipun demikian, ada 5 nilai yang diharapkan menjadi nilai minimal yang dikembangkan di setiap sekolah yaitu nyaman, jujur, peduli, cerdas, dan tangguh/kerjakeras.
materi bahasan suatu mata pelajaran. Meskipun demikian, ada 5 nilai yang diharapkan menjadi nilai minimal yang dikembangkan di setiap sekolah yaitu nyaman, jujur, peduli, cerdas, dan tangguh/kerjakeras.
BAB III
KESIMPULAN
Sejarah merupakan pengetahuan penting dalam keidupan
suatu bangsa. Dengan mempelajari
sejarah kita dapat mengetahui gambaran
kehidupan masa lalu. Atau mengetahui
kejadian kejadian yang terjadi dimasa lampau,masa kini,dan masa yang akan
datang.
Dengan adanya sejarah kita bisa mempelajari aktivitas manusia dalam konteks waktu.Tujuan pendidikan sejarah yaitu untuk
menyadarkan siswa akan
adanya proses perubahan dan perkembangan masyarakat
dalam dimensi waktu, dan untuk membangun
perspektif serta kesadaran sejarah dalam menemukan , memahami , dan menjelaskan
jati diri bangsa di masa lalu , masa
kini , dan
masa depan ditengah
– tengah perubahan
dunia
Landasan pendidikan sejarah adalah pedoman atau dasar
bagaimana pendidikan sejarah dilaksanakan. Pendidikan sejarah harus
berlandaskan, politik, akademik ,filosofi
(rekonstruksi,humanisme, perenialisme, dan esensialisme).
Didalam sejarah terdapat pendidikan karakter dan budaya. Pendidikan
merupakan upaya terencana dalam mengembangkan potensi peserta didik, sehingga
mereka memiliki sistem berpikir, nilai, moral, dan keyakinan yang diwariskan
masyarakatnya dan mengembangkan warisan tersebut ke arah yang sesuai untuk
kehidupan masa kini dan masa mendatang. Sedangkan karakter adalah watak,
tabiat, akhlak, atau kepribadian seseorang yang terbentuk dari hasil
internalisasi berbagai kebajikan (virtues) yang diyakini dan digunakan sebagai
landasan untuk cara pandang, berpikir, bersikap, dan bertindak. Berdasarkan
pengertian budaya, karakter bangsa, dan pendidikan yang telah dikemukakan di
atas maka pendidikan budaya dan karakter bangsa dimaknai sebagai pendidikan
yang mengembangkan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa pada diri peserta
didik sehingga mereka memiliki nilai dan karakter sebagai karakter dirinya,
menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan dirinya, sebagai anggota
masyarakat, dan warganegara yang religius, nasionalis, produktif dan kreatif .
DAFTAR PUSTAKA
http://id.wikipedia.org/wiki/Esensialisme

0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !